1899041510377778

Keutamaan Sedekah dan Celaan Sifat Bakhil

Keutamaan Sedekah

Sedekah Dalam Al-Qur’an

Alloh Ta’ala Berfirman yang artinya:

“.. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Alloh akan menggantinya..” (Saba’ : 39)

“… Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan ( di jalan Alloh), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhoan Alloh. Dan apa saja yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahala dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan).” (Al-Baqoroh: 272)

“.. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan ( di jalan Alloh), maka sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui.” (Al-Baqoroh: 273)

“Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.” (Al-Lail: 8-11)

“… Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya. mama mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (At-Taghobun: 16)

Sedekah Dalam Al-Hadis

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud Radhiallohu’anhu, bahwa Nabi Sholallohu’alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak boleh bersifat hasad (iri hati) kecuali dalam dua hal; seorang yang dikaruniai harta oleh Alloh, kemudian ia menghabiskannya dalam (membela) kebenaran; dan, seorang yang dikaruniai hikmah (ilmu), lalu ia mengamalkannya sekaligus mengajarkannya.” (HR. Bukhari(I/165, Al-Faath) dan Muslim(VI/98, An-Nawawi)

Masih diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud Radhiallohu’anhu, ia menuturkan bahwa Rasululloh Sholallohu’alaihi wa sallam bersabda, “Siapakah di antara kalian yang lebih mencintai harta yang akan diwariskannya daripada hartanya sendiri?” Para sahabat menjawab, “Ya Rasululloh, tidak ada seorangpun dari kami kecuali pasti lebih mencintai hartanya sendiri.” Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya hartanya (yang hakiki) adalah yang telah dipersembahkannya ( di jalan Alloh). Sementara harta yang akan diwariskannya adalah yang telah ditinggalkannya.”

Diriwayatkan dari ‘Adi bin Hatim Radhilallohu’anhu, ia menuturkan bahwasanya Rasululloh Sholallohu’alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak ada seorangpun dari kalian kecuali pasti akan diajak bicara oleh Robbnya. Tidak ada penerjemah antara dirinya dengan Robbnya. Lalu, ia melihat ke samping kanannya, maka ia tidak melihat apa-apa selain apa yang telah dikerjakannya. Ia juga melihat ke samping kirinya, maka ia tidak melihat apa-apa selain apa yang telah dikerjakannya. Dan ia melihat ke arah depannya, maka ia tidak melihat apa-apa selain api neraka tepat di hadapannya. Maka takutlah kalian dari adzab nereka sekalipun hanya bersedekah dengan separuh kurma.”

Dari Abu Hurairoh Radhiallohu’anhu diriwayatkan bahwa ia berkata: Rasululloh Sholallohu’alaihi wa sallam bersabda:

“Tiada hari yang dilewati oleh semua hamba kecuali pada pagi harinya ada dua malaikat yang turun. Kemudian, salah satu dari dua malaikat tersebut berkata, ‘ya Alloh, berilah ganti orang yang berinfak.’ Sedangkan malaikat yang satunya lagi berkata, ‘Ya Alloh, hilangkanlah harta orang yang tidak mau berinfak (bakhil).'”

Masih dari Abu Hurairoh Radhilallohu’anhu pula, diriwayatkan bahwa Rasululloh Sholallohu’alaihi wa sallam bersabda:

“Alloh Ta’ala berfirman, ‘Berinfaklah wahai anak Adam, niscaya kamu akan diberi ganti’.”

Dari Abdulloh bin Amru bin Ash Radhiallhu’anhuma, diriwayatkan bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Rasululloh Sholallohu’alaihi wa sallam, “Amalan apa yang paling utama dalam Islam?” Maka beliau menjawab, “Engkau memberi makan dan menbucapkan salam kepada orang yang telah engkau kenal maupun yang tidak engkau kenal.” (HR. Bukhori & Muslim)

Dari Umamah Radhiallohu’anhu diriwayatkan bahwa ia berkata: Rasululloh Sholallohu’alaihi wa sallam bersabda:

“Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau mensedekahkan kelebihan hartamu, maka itu lebih baik bagimu, Namun jika kamu menahannya, maka itu sangat buruk bagimu. Janganlah engkau mencela orang yang meminta-minta. Dan, mulailah memberi kepada siapa saja yang berada di bawah tanggunganmu. Karena tangan yang di atas itu lebih baik daripada tangan yang di bawah.” (HR. Muslim)

Dari Anas Radhiallohu’anhu, diriwayatkan bahwa ia berkata: Tidaklah Rosululloh Sholallohu’alaihi wa sallam dimintai sesuatu pun atas nama Islam kecuali beliau pasti memberinya. Sungguh, pernah ada seseorang yang datang kepada beliau, lalu beliau memberinya kambing sebanyak antara dua gunung. Lantas orang itu pulang ke kaumnya seraya berkata, “Wahai kaumku, masuk Islamlah kalian, karena muhammad akan memberi sesuatu yang membuat seseorang tidak akan takut fakir.” Sekalipun orang itu hanya masuk Islam karena dunia, namu sebentar kemudian Islam telah menjadi sesuatu yang lebih ia cintai daripada dunia dan segala apa yang ada di atasnya.” (HR. Muslim)

Dari Abu Hurairoh Radhiallohu’anhu, diriwayatkan bahwa Rasululloh Sholallohu’alaihi wa sallam bersabda:

“Sedekah tidak akan mengurangi harta. Tidaklah Alloh akan menambah seorang hamba yang pemaaf selain kemuliaan; dan tidaklah seseorang yang bersikap tawadhuk karena Alloh, kecuali Alloh Ta’ala akan mengangkat derajatnya.” (141)

Dari Amru bin Sa’ad Al-Anmari Radhiallohu’anhu, diriwayatkan bahwa ia pernah mendengar Rasululloh Sholallohu’alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga hal yang aku bersumpah dengannya, dan aku akan memberitahukan kepada kalian sebuah hadits, maka hafalkanlah; harta seorang hamba itu tidak akan berkurang karena disedekahkan; tidaklah seorang hamba dizholimi dengan sebuah kezholiman, lalu ia bersabar atasnya melainkan Alloh akan menambahkan kemuliaan kepadanya; dan tidaklah seorang hamba membuka pintu meminta-minta kepada orang lain melainkan Alloh akan membuka pintu kefakiran kepadanya. Aku juga akan memberitahukan kepada kalian sebuah hadits, maka hafalkanlah; sesungguhnya dunia itu untuk empat orang; (pertama) seorang hamba yang Alloh anugerahi berupa harta dan ilmu, lalu dengannya ia bertakwa kepada Robbnya, menyambung silaturahmi, dan mengetahui hak Qlloh, maka inilah kedudukan yang paling utama; (kedua) seorang hamba yang Alloh anugeri ilmu, namun tidak mengahugerahinya harta, lalu dengan niat yang tulus seraya berkata, “Sekiranya aku mempunyai harta, niscaya aku akan melakukan seperti yang dilakukan si fulan (orang yang pertama),’ maka paha keduanya sama; (kegita) seorang hamba yang Alloh anugerhi harta, namun tidak menganuerahinya ilmu, lalu ia membelanjakan hartanya sesuaku nafsunya sendiri tanpa ilmu, tidak bertakwa kepada Robbnya, tidak menyambung silaturahmi, dan tidak mengetahui hak Qlloh padanya, maka inilah kedudukan yang paling buruk; (keempat) seorang hamba yang Alloh tidak menganugerahinya harta dan ilmu, laluia berkata , ‘Sekiranya aku mempunyai harta, niscaya aku akan melakukan seperti yang dilakukan si Fulan (orang yang ketiga),’ dengan iiatnya tersebut, maka dosa keduanya sama.” (HR Tirmidzi)

Dikutip dari buku Shaikh Walid ‘Abdus Salam Bali dengan Judul “Selamat Anda Layak Masuk Surga. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Mutsanna Abdul Qohhar.