1899041510377778

Anjuran Menginfakkan Harta yang Paling Dicintai

anjuran sedekah dari harta yang paling dicintaiDalam bersedekah, seyogyianya seorang hamba menyedekahkan harta yang paling dicintainya dan dari yang halal, terkhusus harta yang didapatkan dari hasil jerih payahnya sendiri. Sungguh, Alloh Ta’ala itu baik dan menyukai yang baik-baik; bahkan, Dia pun tidak akan menerima sesuatu kecuali yang baik. Siapa saja yang telah mampu berbuat demikian, berarti dia telah terlepas dari sifat kikir atau bakhil. Alloh pasti memberi ganti yang lebih baik daripada segala apa yang orang itu infakkan, serta Dia pun akan menambahkan karunia-Nya; sesungguhnya, Alloh Ta’ala mempunyai karunia yang agung.

Alloh Subhanahuwata’ala berfirman:

“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu meningakkan sebagian harta yang kamu cintai…. “ (QS. Ali Imran [3] 92)

Dalam ayat di atas, Alloh Ta’ala menegaskan kepada hamba-hamba-Nya “Kalian tidak akan mencapai kebaikan yang sempurna hingga (kalian mau) menginfakkan harta yang paling kalian cintai di jalan Alloh!”

Alloh Ta’ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk untukkamu keluarkan… “ (QS. Al-Baqarah [2]: 267)

Alloh juga memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman agar menginfakkan sebagian harta pemberian-Nya yang baik-baik, termasuk juga buah-buahan dan tanam-tanaman yang telah ditumbuhkannya untuk mereka dari dalam bumi.

Kemudian Dia melarang mereka bersedekah dengan harta yang buruk lagi hina. Pasalnya, Alloh adalah Maha Baik dan tidak menerima sesuatu kecuali yang baik. Lantas oleh –Nya hujjah (argumentasi) atau dalil yang tepat dalam bentuk analog, yaitu siapa saja yang berniat membeli atau menginfakkan sesutu yang buruk seyogyanya berfikir; bagaimana jika semua itu diberikan kepada kita? Niscaya kita pun tidak akan mau mengambilnya terkecuali dengan memicingkan mata atau pun sikap enggan terhadapnya.

Sesungguhnya Alloh Ta’ala lebih tidak membutuhkan pemberian yang demikian daripada kalian. Maka, janganlah memberikan kepada Alloh apa-apa yang tidak kalian sukai.

Hadist tentang Mengingakkan Harta yang dicintai dan yang Baik

  1. Dari Anas bin Malik Radhiallohu’anhu, ia bercerita: “Abu thalhah Radhiallohu’anh adalah orang anshor yang paling kaya dengan perkebunan kurma di Madinah. Harta (kekayaan) yang paling dicintai olehnya ialah kebun Bairoha yang menghadap dekat dengan masjid Nabawi. Rasululloh Sholallohu’alaihi wa sallam sering masuk ke kebun itu dan meminum air bersih yang berada di dalamnya.”

Anas melanjutkan: “Ketika turun ayat ini: ‘Sekali-kali kamu tidak sampai kepada kebajikan yang sempurna sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai,’ Abu Thalhah menghadap beliau dan berkata: ‘Wahai Rasululloh, sesungguhnya Alloh Ta’ala menurunkan ayat ini kepada Engkau: ‘Sekali-kali kamu tidak sampai kepada kebajikan yang sempurna sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.’ Ketahuilah bahwa harta yang paling aku cintai adalah kebun Bairoha, dan sekarang kebun tersebuh aku sedekahkan demi Alloh ta’ala dengan mengharap kebajikannya dan sebagai simpanan di sisi Alloh Ta’ala. Maka manfaatkanlah kebun itu sesuai dengan petunjuk Alloh yang diberikan kepada Engkau, wahai Rasululloh.’ Lalu Rasululloh Sholallohu’alaihi wa Sallam bersamba: ‘Bagus! Itulah harta yang menguntungkan. Aku mendengar apa yang kamu katakan tadi, dan menurutku sebaiknya Engkau membagi-bagikan kebun tersebut kepada sanak kerabat.’

Sabda beliau Sholallohu’alaihi wasallam (Maalun Raabinhun). Dalam Ash-Shohihain diriwayatkan dengan lafadz: (Raabihun) dengan huruf Ba’, dan (Raayihun) dengan huruf ya’. Dengan lafadz yang kedua artinya: “Manfaatnya akan kembali kepadamu.” Sedangkan (Bairohahu’) adalah kebun kurma. Mengenai cara membacanya, boleh dengan meng-kasroh-kan huruf Ba’ atau mem-fat-hah-kannya.

Hadits ini diriwayatkan oleh AlBukhori (III/325-Fathul Bari) dan Muslim (no. 998).

Kandungan Hadits

  1. Keutamaan berinfak dengan harta yang paling baik dan paling dicintai seorang hamba.
  2. Kesegeraan para sahabat Radhiallohu’an dalam memenuhi perintah Alloh Subhanahuwata’ala, Serta keinginan keras mereka dalam berupaya mencapai tingkatan derajat keimanan yang dicintai Alloh dan Rasul-Nya.
  3. Menyerahkan kepada para ulama dan orang-orang yang bijak (adil) untuk membagikan dan mengalokasikan sedekah demi kebaikan.
  4. Diperbolehkan memanfaatkan masjid untuk sesuatu yang bersifat umum demi kepentingan kaum muslimin.
  5. Perintah berbuat baik dan memuji pelakunya seraya bergembira dan merasa kagum terhadap perbuatan mereka.
  6. Orang-orang paling berhak menerima kebaikan dari kita adalah kerabat dan keluarga.
  7. Tidak mengapa masuk kedalam kebun untuk berteduh dan minum airnya terutama jika pemiliknya senang akan tindakan tesebut.
  8. Keutamaan abu Thalhah Radhiallohu’anh, dan mengingat ayat Al-Qur’an diatas sudah mencakup perintah agar menginfakkan harta yang dicintai dan ia menyentuh hati sahabat ini untuk menginfakkan harta yang paling dia cintai. Rasululloh Sholallohu’alaihi wa sallam pun membenarkan pendapatnya itu dengan menyatakan: “Bagus! Itulah harta yang menguntungkan.”
  9. Kekayaan yang dipersembahkan kehadirat Rabb Semesta Alam serta yang disimpan di sisi-Nya untuk suatu hari takala tidak lagi bermanfaat harta dan anak-anak merupakan harta yang beruntung dan tergolong perdagangan yang tidak akan pernah merugi, sebagaimana ditegaskan dalam Ayat berikut yang artinya:

“Apa yang ada disisi mu akan lenyap, dan apa yang di sisi Alloh adalah kekal…. “ (QS. An –Nahl [16] : 96)

Sumber: Buku Terjemah Syarah Riyadhusholihin karya Syaikh Salim bin ‘Ied al Hilali.  Diterjemahkan ulang ke bahasa Indonesia oleh Ustadz M. Abdul Ghoffar E.M. dan diterbitkan oleh Pustaka Imam As-Syafi’i.

Semoga Alloh berikan hidayah kepada kita semua untuk dapat menghinfakkan sesuatu yang paling kita cintai dengan mengharap pahala dari Alloh Subhanahuwata’ala. Aamiin.